Thursday, May 04, 2006

Setiakah Engkau?

Penderitaan Istri yang Setia Itu Berujung Kematian...
Begitulah judul berita Kompas 30 April 2006 yang memaksa mataku untuk membaca baris demi baris huruf dibawahnya. Ini kisah tentang seorang guru SD yang meninggal setelah dianiaya suaminya secara terus menerus sejak pernikahan mereka di tahun 1995.

Mari kukutip tulisan di koran itu:
“Mereka prihatin atas penderitaannya, tetapi juga menaruh simpati dan kagum pada karakternya yang tegar dan tabah menghadapi penderitaannya, dan setia pada ikatan perkawinan. Sejak dinikahi Johny sekitar tahun 1995, hidup bahagianya hanya sepenggal bulan pertama. Hidup Arta selanjutnya selalu diliputi kekerasan fisik dari suami. Biasanya, Arta dipukul dan disiksa, dimaki,difitnah, dan sering sekali ditelantarkan begitu saja jika jatuh sakit.”

Dan komentar adik kandung korban,” Dia adalah wanita yang setia. Meski beberapa kali kami memberi saran agar bercerai saja dari suaminya, dia tetap bertahan. Padahal dengan gaji sebagai guru, dia bisa menafkahi diri sendiri.”

Apakah setia itu? Tidakkah seharusnya setia pada pasangan dan perkawinan itu bersyarat? Minimal, adanya penghormatan terhadap kemanusiaan pasangan. Benarkah sikap bertahan dalam perkawinan semacam itu layak diapresiasi sebagai setia? Atau justru sebenarnya hanyalah kepasrahan (untuk tidak mengatakan kebodohan) sia-sia?

Sebagai orang yang percaya pada adanya pertanggungjawaban setelah umur berakhir, aku bertanya-tanya dalam hati, apakah sikap seperti itu akan dipujiNya kelak? Ataukah Dia justru akan bertanya, “Mengapa tidak kau selamatkan dirimu? Mengapa kau sia-siakan kemampuan dan potensi yang Kuberikan padamu?”
Sebagaimana malaikat mencela kaum muslimin yang tidak mau hijrah dan mati terzalimi di Mekkah, “Bukankah Bumi Allah itu luas?” (Qur'an Surah Annisa 97-99)



6 Comments:

Anonymous bank_al said...

orang Indonesia memang kadang sulit membedakan antara "setia" dan "goblok"

12:35 AM  
Blogger Minarwan said...

Bisa juga karena enggak pede kalo hidup sendiri kali.

6:51 AM  
Anonymous porter said...

namanya juga orang endonesa ... :)

2:01 AM  
Blogger alex said...

kayaknya bukan masalah dia orang indonesia atau bukan sajalah. aku bukannya tersinggung karena orang indonesia juga, cuma masalah perasaan ndak kenal suku-bangsa atau apa.

tapi... tetap saja itu perempuan masa ndak bisa bedain antara "setia" dan "keharusan"?
hijrahlah, kalo memang tempat atau kondisi memang tidak menyehatkan, dalam hal apapun... :)

4:22 PM  
Anonymous asaputra said...

Still, we (or I to be exact) don't have right to judge...

9:16 PM  
Anonymous zee said...

budaya jahiliyah mendoktrin perempuan sejak lahir utk menempatkan diri sebagai pihak yg "menyerah"/tak berdaya/gak punya suara... dan hidupnya buat org laen, gak bisa merasa pede dgn dirinya sendiri. hari gini kok ya masih ada yg -sorry to say- sebego itu.

12:38 AM  

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home